Pada medio Agustus 1998 terjadi
lonjakan harga beras yang tidak terduga. Hal itu terjadi di seluruh wilayah
Indonesia dan telah mendorong perlunya campur tangan pemerintah secepat
mungkin. Dalam kaitan itu Bank Dunia menugaskan satu Tim untuk memahami sebab
akibat kejadian itu. Pada akhir September 1998, Tim ini melakukan perjalanan
menelusuri Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Tim
melakukan wawancara dengan para pelaku industri perberasan, seperti petani,
konsumen, pemilik penggilingan padi, pedagang, kepala desa, camat, Bagian
Perekonomian Pemda Tingkat II, Dinas Pertanian Tanaman Pangan, dan Dolog/Sub-Dolog.
Semula lonjakan harga itu diduga disebabkan oleh
merosotnya atau menghilangnya beras dari pasar. Namun hasil penelusuran Tim
Bank Dunia tidak menemukan indikasi dari segi produksi yang berpotensi dapat
membuat pasokan beras anjlok. Hasil panen musim hujan yang lalu memang menurun
sebagai akibat kemarau panjang dan kenaikan harga pupuk dan pestisida. Namun
hujan yang terus menerus turun sepanjang musim kering 1998 membuat tingkat
produksi secara keseluruhan relatif sama dibanding dengan tahun lalu. Dalam
kenyataannya beras memang tersedia dalam jumlah yang cukup di pasar-pasar, di
warung-warung di perdesaan, dan di gudang-gudang Dolog.
Hasil investigasi menunjukkan bahwa lonjakan harga itu
disebabkan oleh faktor-faktor lain, yaitu: (1) ketidakpastian situasi politik
pada awal Agustus 1998 yang diiringi dengan tersebarnya berbagai isu kerusuhan,
(2) keengganan pedagang dan pemilik penggilingan menangani beras dalam jumlah
besar, di satu pihak mereka takut dituduh sebagai penimbun, di pihak lain
khawatir dijarah, (3) keengganan petani menjual hasil panennya, khawatir harga
akan terus meningkat di masa paceklik nanti, dan (4) kegagalan Dolog untuk
bereaksi tepat waktu dalam memasok beras, ketika harga meroket.
Menjelang peringatan 17 Agustus merebak isu akan
terjadi lagi kerusuhan sosial sebagaimana pada pertengahan Mei 1998. Isu-isu
itu membuat resah masyarakat, khususnya masyarakat Cina. Akibatnya banyak
pedagang besar beras di Surabaya dan kota-kota lain pergi ke luar kota bahkan
ke luar negeri. Oleh karena itu, selama beberapa hari kegiatan perdagangan
mereka terhenti, aktifitas bongkar muat di pelabuhan Tanjung Perak diberitakan
tertunda. Meskipun situasi itu hanya berlangsung beberapa hari, ternyata
berdampak sangat besar pada perdagangan beras di hari-hari berikutnya.
Faktor-faktor tersebut di atas terjadi secara
bersamaan dan mengakibatkan pasokan beras di pasar normal menipis. Namun tidak
ada satupun dari faktor-faktor itu yang menyebabkan anjloknya pasokan beras.
Dalam kenyataannya tidak ada satu hari pun di bulan Agustus yang menunjukkan
bahwa beras menghilang dari pasar dan warung.
Pada saat Tim mengakhiri penelusurannya, harga beras
bergerak turun, terutama setelah Dolog melakukan operasi pasar besar-besaran.
Bersamaan dengan itu daya beli masyarakat yang merosot (akibat krisis ekonomi),
membuat sebagian besar mereka beralih mengkonsumsi beras (murah) Dolog. Kalau
keadaan ini berlangsung lama dikhawatirkan akan menyebabkan harga beras lokal
terus menurun, pada waktu bersamaan harga pupuk dan pestisida terus meningkat
yang pada gilirannya akan mengurangi margin keuntungan petani sebagai
produsennya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar